Proyek Gorong-Gorong di jl kapas krampung Disorot Tajam!!! Tidak ada Dewatering Sebelum Pasang Box Culvert.

Reporter : Redaksi
Air menggenang saat pasang Box Culvert (Dok.semerusatu news.net)

Semerusatunews.net, SURABAYA — Pekerjaan proyek gorong-gorong dan saluran drainase di jl kapas krampung, Tambaksari, menjadi sorotan tajam, Persoalan teknis di lapangan khususnya mengenai pengendalian air saat proses penggalian dan pemasangan box culvert, dinilai menjadi salah satu aspek penting yang harus mendapat pengawasan ketat dari kontraktor maupun pengawas proyek.

 

Baca juga: Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Diminta Tindak Tegas, Dugaan Lahan Pemkot di Kyai Tambak Deres Dipakai Warung Kopi

Hal tersebut semakin relevan dengan masifnya pembangunan infrastruktur drainase di Kota Surabaya. Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) saat ini mempercepat pengerjaan saluran air, box culvert, hingga rumah pompa di berbagai wilayah. Pemkot menargetkan pekerjaan tersebut dapat rampung sebelum puncak musim penghujan, bahkan sejumlah pekerjaan diupayakan selesai pada Oktober 2026. 

 

Namun, percepatan pekerjaan tidak boleh mengesampingkan kualitas konstruksi, keselamatan pekerja maupun pengguna jalan.

 

Air di Area Galian Harus Dikendalikan,Dalam pekerjaan pemasangan gorong-gorong atau box culvert, salah satu persoalan yang harus diperhatikan adalah keberadaan air di dalam area galian.

 

Secara teknis, kontraktor perlu melakukan dewatering atau pengendalian air apabila kondisi lapangan menyebabkan air masuk atau menggenangi area pekerjaan. Tujuannya agar area kerja berada dalam kondisi yang sesuai untuk pemasangan struktur, sekaligus mencegah gangguan terhadap stabilitas tanah dan kualitas pekerjaan.

 

Dengan demikian, anggapan bahwa sebelum pemasangan struktur gorong-gorong air harus terlebih dahulu dikendalikan hingga area kerja cukup kering pada prinsipnya berkaitan dengan metode pelaksanaan konstruksi. Tetapi metode pastinya harus disesuaikan dengan kondisi tanah, muka air, desain proyek, spesifikasi teknis, dan metode kerja yang telah disetujui.

 

Pedoman teknis drainase juga memuat ketentuan mengenai pengeringan air dan pemeliharaan kondisi tempat kerja dalam pekerjaan gorong-gorong dan drainase beton

 

Pemasangan box culvert tidak semestinya hanya dilihat dari apakah material sudah masuk ke lubang galian. Ada sejumlah tahapan pekerjaan yang harus diperhatikan, mulai dari persiapan lokasi, penggalian, pengendalian air, kesiapan dasar galian, pemasangan struktur, penyambungan, hingga pekerjaan penimbunan kembali dan pemulihan permukaan jalan.

 

Apabila air terus menggenangi dasar galian ketika pekerjaan berlangsung, kondisi tersebut perlu dievaluasi oleh pelaksana dan pengawas proyek.

 

Sebab, pekerjaan struktur membutuhkan kondisi dasar yang sesuai dengan spesifikasi teknis. Air yang tidak terkendali juga dapat mengganggu pekerjaan persiapan dasar, menyebabkan material dasar bercampur lumpur, serta berpotensi memengaruhi kualitas pemasangan apabila tidak ditangani sesuai metode kerja.

 

Karena itu, masyarakat berhak mempertanyakan bagaimana metode pelaksanaan pekerjaan dilakukan apabila melihat pemasangan gorong-gorong berlangsung dalam kondisi air yang masih menggenang.

 

Perhatian terhadap kualitas pekerjaan menjadi semakin penting karena Pemkot Surabaya saat ini sedang mengerjakan proyek drainase dalam jumlah besar.

Kepala Bidang Drainase DSDABM Kota Surabaya, Adi Gunita, menyebut pekerjaan gorong-gorong mencapai sekitar 100 lebih titik yang tersebar di berbagai wilayah. Pemerintah menargetkan pembangunan saluran dan rumah pompa selesai sebelum musim penghujan.

 

Pemkot juga menyampaikan bahwa pembangunan infrastruktur tersebut merupakan bagian dari upaya mengatasi genangan dan banjir di Surabaya.

Salah satu proyek yang dikerjakan sebelumnya adalah pembangunan box culvert di Jalan Prof. Dr. Moestopo yang berfungsi menghubungkan saluran menuju Rumah Pompa Dharmahusada. Saluran tersebut diharapkan dapat membantu mengalirkan air dari kawasan Karang Menjangan menuju sistem pompa sebelum diteruskan ke Kali 

 

Di sisi lain, percepatan pekerjaan tidak boleh membuat aspek keselamatan dan mutu konstruksi diabaikan.

Pada Juni 2026, Pemkot Surabaya bahkan melakukan evaluasi besar-besaran terhadap proyek gorong-gorong setelah terjadi kecelakaan di Jalan Margorejo Indah yang menyebabkan seorang warga meninggal dunia.

 

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi saat itu meminta pengerjaan galian dilakukan secara bertahap dan tidak membuka galian terlalu panjang sekaligus. Ia juga meminta setiap lokasi pekerjaan diberi pembatas yang rapat serta lampu penanda agar mudah terlihat oleh pengguna jalan, terutama malam hari. 

 

Evaluasi tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan gorong-gorong bukan hanya persoalan menyelesaikan konstruksi, tetapi juga menyangkut keselamatan masyarakat.

Baca juga: Diduga Lahan Pemkot Surabaya di Kyai Tambak Deres Dipakai Warung Kopi, RT Sebut Ada Kontrak Rp15 Juta

 

Air Hasil Dewatering Juga Tidak Boleh Sembarangan Dibuang,Hal lain yang perlu diperhatikan adalah air yang dikeluarkan dari area galian. Apabila kontraktor menggunakan sistem pompa untuk mengendalikan air, pembuangan air hasil pemompaan tetap harus memperhatikan kondisi lingkungan dan saluran penerima. Regulasi mengenai kegiatan dewatering juga mengatur aspek teknis, termasuk metode, kapasitas pompa, debit pemompaan, serta kewajiban mencegah kerusakan lingkungan. 

 

Masyarakat yang melihat adanya dugaan pekerjaan gorong-gorong yang dilakukan tanpa pengendalian air secara memadai dapat meminta penjelasan kepada pihak pelaksana proyek dan instansi terkait.

Pertanyaan yang penting untuk dijawab antara lain :

Apa metode kerja yang digunakan?

 

Apakah tersedia metode pelaksanaan atau method statement?

 

Bagaimana sistem dewatering yang digunakan?

 

Apakah dasar galian sudah memenuhi spesifikasi?

 

Siapa konsultan pengawas pekerjaan?

Bagaimana pengawasan mutu pemasangan box culvert?

 

Bagaimana air hasil pemompaan dibuang?

Baca juga: Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak Silaturahmi ke Wali Kota Surabaya jalin sinergitas.

 

Apakah pekerjaan telah sesuai gambar dan spesifikasi teknis?

 

Bagaimana standar keselamatan masyarakat di sekitar lokasi proyek?

 

Pertanyaan tersebut penting agar pembangunan infrastruktur tidak hanya mengejar cepat selesai, tetapi juga menghasilkan konstruksi yang aman, kuat dan berfungsi sebagaimana mestinya.

 

Dengan banyaknya titik pekerjaan, pengawasan harus dilakukan secara konsisten. Setiap kontraktor perlu memastikan tahapan pekerjaan dilaksanakan berdasarkan spesifikasi teknis dan kondisi lapangan.

Jangan sampai target penyelesaian justru membuat tahapan pekerjaan yang seharusnya penting dilewati atau dilakukan secara terburu-buru.

 

 

Prinsipnya, proyek gorong-gorong bukan sekadar menggali tanah lalu memasukkan box culvert. Pengendalian air, kesiapan dasar galian, pemasangan struktur, keselamatan kerja, pengamanan pengguna jalan, hingga pemulihan permukaan jalan merupakan satu rangkaian pekerjaan yang harus dikendalikan.

 

Jika ditemukan pekerjaan yang tidak sesuai spesifikasi atau berpotensi membahayakan masyarakat, evaluasi dan tindakan korektif perlu dilakukan sejak dini, sehingga persoalan tidak berkembang menjadi kerusakan konstruksi maupun kecelakaan.

 

 

Semeru Satu News akan terus memantau pelaksanaan proyek drainase dan gorong-gorong, termasuk kualitas pekerjaan, metode pengendalian air, keselamatan pengguna jalan serta transparansi pelaksanaan proyek di lapangan.

Editor : Redaksi

Opini
Berita Populer
Berita Terbaru