SURABAYA — Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kakanwil Ditjenpas) Jawa Timur, Kusnali, terus mendorong penguatan program pembinaan warga binaan melalui kegiatan produktif, khususnya di bidang kemandirian pangan. Program tersebut diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi ketahanan pangan, tetapi juga menjadi sarana pembekalan keterampilan dan kesiapan finansial bagi warga binaan sebelum kembali ke tengah masyarakat.
Dalam kesempatan silaturahmi bersama awak media, Kusnali menyambut baik kunjungan tersebut. Pertemuan itu menjadi ruang komunikasi dan pertukaran pandangan mengenai pelaksanaan program pemasyarakatan, peningkatan kualitas pembinaan, serta penguatan keterbukaan informasi kepada masyarakat.
Salah satu perhatian utama yang dibahas adalah pengembangan program kemandirian pangan yang mengadopsi praktik positif dari Jawa Barat untuk diterapkan dan dikembangkan di Jawa Timur. Program serupa telah berjalan di sejumlah unit pelaksana teknis pemasyarakatan di Jawa Timur.
Ke depan, penguatan program diharapkan semakin optimal melalui pengelolaan yang produktif, pemberdayaan warga binaan, serta pemanfaatan potensi yang tersedia.
Kemandirian Pangan sebagai Sarana Pembinaan
Program kemandirian pangan tidak semata-mata berorientasi pada hasil pertanian atau peternakan.
Lebih dari itu, kegiatan tersebut dapat menjadi media pembelajaran bagi warga binaan untuk mengenal proses produksi, mengembangkan keterampilan kerja, memahami tanggung jawab, serta membangun kedisiplinan.
Melalui pembinaan yang terarah, warga binaan diharapkan memperoleh pengalaman yang bisa dimanfaatkan setelah menyelesaikan masa pidana. Dengan demikian, kegiatan produktif di lingkungan pemasyarakatan dapat menjadi bagian dari proses mempersiapkan mereka agar lebih mandiri dan mampu beradaptasi ketika kembali ke masyarakat.
Pengembangan program ini juga membutuhkan pengawasan, pendampingan petugas, serta evaluasi berkala agar pelaksanaannya berjalan sesuai ketentuan dan memberikan manfaat nyata.
Ilmu dan Premi Menjadi Bekal Awal
Ada dua poin penting yang diharapkan menjadi hasil nyata dari program pembinaan tersebut, yakni:
1. Ilmu dan keterampilan
Warga binaan perlu mendapatkan pengetahuan praktis melalui pelatihan dan pengalaman kerja, mulai dari budidaya tanaman pangan, pengelolaan hasil produksi, peternakan, hingga keterampilan lain sesuai potensi masing-masing. Pengetahuan tersebut diharapkan menjadi modal kemampuan ketika mereka kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat.
2. Premi sebagai bekal finansial
Selain ilmu, pemberian premi sesuai ketentuan bagi warga binaan yang mengikuti kegiatan kerja produktif juga menjadi aspek penting. Premi dapat membantu membangun motivasi sekaligus menjadi bekal finansial awal setelah bebas, sehingga warga binaan memiliki peluang lebih baik untuk memulai kehidupan secara mandiri.
Kombinasi antara pengetahuan dan dukungan finansial tersebut diharapkan mampu memperkuat kesiapan warga binaan dalam membangun masa depan yang lebih positif, produktif, dan bertanggung jawab.
Asesmen Asimilasi Harus Dilakukan secara Selektif
Baca juga: GEBRAKAN DITRESNARKOBA POLDA JATIM! PETUGAS NAIK ANGKOT GEREBEK KAWASAN JALAN KUNTI SURABAYA
Dalam pelaksanaan asimilasi, pemilihan warga binaan perlu dilakukan secara cermat melalui asesmen dan pemeriksaan persyaratan sesuai peraturan yang berlaku.
Sejumlah aspek yang menjadi perhatian meliputi:
Pemenuhan syarat masa pidana: termasuk ketentuan mengenai telah menjalani setengah masa pidana apabila dipersyaratkan oleh skema atau program yang berlaku.
Berkelakuan baik: memiliki catatan perilaku yang memenuhi persyaratan pembinaan.
Adanya penjamin keluarga: dukungan dan kesediaan keluarga menjadi bagian dari pertimbangan sesuai ketentuan.
Tingkat risiko rendah: hasil asesmen risiko menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan kelayakan mengikuti program.
Aspek-aspek tersebut harus disesuaikan dengan dasar hukum dan jenis asimilasi yang diterapkan. Keikutsertaan warga binaan bukan berarti pengawasan dihentikan.
Pengawasan dan pendampingan tetap diperlukan untuk memastikan pelaksanaan program berlangsung tertib, aman, serta sesuai ketentuan.
Baca juga: Polda Bali Amankan 21 Penjual Pertalite di Atas Harga Normal
Pembinaan Kepribadian Tetap Menjadi Prioritas
Selain pembinaan kemandirian, pembinaan kepribadian juga perlu terus diperkuat. Program ini mencakup kegiatan edukasi, sosialisasi, pembinaan spiritual, serta pengembangan literasi.
Pembinaan edukasi dan sosialisasi diharapkan membantu warga binaan meningkatkan pemahaman tentang kehidupan bermasyarakat, tanggung jawab sosial, serta pentingnya menaati aturan. Sementara itu, pembinaan spiritual dapat menjadi ruang untuk memperkuat nilai moral, introspeksi, dan perubahan perilaku ke arah yang lebih baik.
Penguatan literasi juga penting untuk memperluas wawasan, meningkatkan kemampuan memahami informasi, serta menumbuhkan minat belajar. Seluruh aspek tersebut saling melengkapi dengan pembinaan kemandirian agar warga binaan tidak hanya memiliki keterampilan kerja, tetapi juga kesiapan mental dan sosial.
Harapan bagi Pemasyarakatan Jawa Timur
Penguatan program kemandirian pangan dan pembinaan warga binaan di Jawa Timur diharapkan terus berkembang melalui inovasi, kolaborasi, serta pengawasan yang konsisten.
Dukungan jajaran pemasyarakatan, keluarga, masyarakat, dan media menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan pembinaan yang produktif dan berorientasi pada perubahan.
Melalui pendekatan yang menggabungkan ilmu, keterampilan, premi, pembinaan kepribadian, dan pendampingan, warga binaan diharapkan memiliki bekal yang lebih memadai untuk menjalani kehidupan setelah bebas.
Program pemasyarakatan pada akhirnya bukan hanya tentang menjalani masa pidana, melainkan juga tentang membuka kesempatan bagi setiap warga binaan untuk memperbaiki diri, mengembangkan potensi, dan kembali berkontribusi secara positif kepada masyarakat.
Editor : Redaksi